Tafsir ODOA – Surah AN NABAA’ (78)

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــمِ

MUQODDIMAH
Surat An Naba´ terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Ma´aarij. Dinamai An Naba´ (berita besar) diambil dari perkataan An Naba´ yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Dinamai juga Amma yatasaa aluun diambil dari perkataan Amma yatasaa aluun yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Pokok-pokok isinya:
Pengingkaran orang-orang musyrik terhadap adanya hari berbangkit dan ancaman Allah terhadap sikap mereka itu;kekuasaan-kekuasaan Allah yang terlihat dalam alam sebagai bukti adanya hari berbangkit; peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari berbangkit; azab yang diterima orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah serta kebahagiaan yang diterima orang-orang mukmin di hari kiamat; penyesalan orang kafir di hari kiamat.

Asbabun Nuzul:
Hasan meriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dg kaum kafir Quraisy yg ketika Rasulullah diutus, bertanya2 tentang misi yg beliau emban dr Allah (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)

15 Shafar 1435 H / 18 Desember 2013
‘An-Nabaa Ayat 1

۞ عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ
“ Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”

ARTI PER-KATA

KATA ARTI
عَمَّ = ما + عن Tentang apa
يَتَسَآءَلُونَ Mereka saling bertanya

 

TAFSIR (78:1)

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya mengingkari orang orang musyrik dalam hal pertanyaan yang mereka ajukan mengenai hari Kiamat, yakni pengingkaran terhadap kejadiannya.

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fii Zilalil Quran: Persoalan apakah yg mereka perbincangkan? Kemudian dijawab. Pertanyaan itu tdk dimaksudkan untuk mengetahui jawabannya dari mereka. Tetapi, hanya untu menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka dan untuk mengarahkan perhatian terhadap keganjilan pertanyaan mereka. Diungkaplah persoalan yg mereka pertanyakan dan dijelaskanlah hakikat dan tabiatnya.

Sayyid Qutb dalam Riyadush Sholih: Surah ini di mulakan dengan satu pertanyaan yg menarik untuk membesar-besarkan persoalan Qiamat yg di pertikaikan mereka (orang kafir). Qiamat adalah satu persoalan yg amat besar dan amat jelas, tiada sebarang kesamaran dan keraguan lagi. Kemudian pertanyaan itu di iringi dengan ancaman Hari Qiamat yg akan mereka ketahui kebenaran hakikatnya.
Mengenai apakah mereka saling Tanya-menanya. Mengenai berita yg agung. Yg mereka perselisihkan mengenainya. Orang musyrik tertanya-tanya sesama mereka tentang hari Kebangkitan. Mereka sibuk memperkatakan dan tidak mempercayainya. Malahan mereka mempersendakan peritiwa hari Kebangkitan. Lalu Allah s.w.t telah menyanggah mereka dengan menggunakan gaya bahasa berbentuk soalan bagi menunjukkan peri penting dan gerunnya perkara yg di persoalkan. Ia juga bertujuan menyatakan bahawa ilmu tentang hari Kebangkitan tidak dapat di capai oleh makhluk.
Perkara apakah yg mereka Tanya Rasulullah s.a.w dan orang mukmin? Adakah mereka saling bertanya mengenai berita yg agung (hari Kebangkitan)? Iaitu perkara yg mereka perselisihkan. Oleh itu, ada kalangan mereka komited bahawa peristiwa tersebut tidak akan berlaku. Mereka berkata : “Hidup hanyalah hidup kita di dunia. Kita mati dan kita hidup dan kita tidak di bangkitkan.” ( Al-Mukminun:37 ).
Mereka mengingkarinya lantaran mereka mengingkari kewujudan Allah s.w.t…
(sumber: http://akhmohd777.wordpress.com/2008/07/20/111/)

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar: “Dari hal apakah mereka tanya-bertanya?” (ayat 1). Atau, soal apakah yang mereka pertengkarkan atau persoalkan di antara sesama mereka? Mengapa mereka jadi bertengkar tidak berkesudahan? Yang mereka tanya-bertanyakan, yang mereka persoalkan, menjadi buah tutur di mana mereka berkumpul sesama mereka, yaitu kaum Quraisy itu, ialah: “Dari hal satu berita besar!” (ayat 2).

Tafsir Indonesia / DEPAG: Orang-orang Musyrik Quraisy ketika berkumpul dalam gedung pertemuan mereka yang berada di dekat Baitullah, sering membicarakan keadaan Nabi Muhammad SAW. dan Kitab Alquran yang dibawanya. Mereka sering bertanya satu sama lain. “Apakah Muhammad itu seorang tukang sihir atau penyair atau seorang dukun tukang tenung yang terkena pengaruh buruk oleh berhala-hala mereka?”. Dan mereka bertanya-tanya pula tentang Alquran, “Apakah dia itu sihir atau syair atau mantera-mantera saja?”. Dan masing-masing mengemukakan pendapatnya yang sesuai dengan hawa nafsunya, sedangkan Nabi Muhammad SAW. sendiri dengan sikap yang tenang menyampaikan seruannya berdasarkan ayat-ayat Alquran yang memberi sinar penerangan kepada manusia pada jalan kebenaran.
Selain itu mereka sering bercakap-cakap tentang hari berbangkit sehingga sering menimbulkan perdebatan, sebab di antara mereka ada yang mengingkarinya dan beranggapan bahwa setelah mati habislah urusan mereka.
Mereka berpendapat bahwa, manusia itu lahir ke dunia setelah itu ia mati dan ditelan bumi karena tidak ada yang membinasakan mereka kecuali masa atau waktu saja. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa, yang dibangkitkan itu hanya arwah mereka saja dan bukan jasad mereka yang telah habis dimakan bumi. Dan ada pula di antara mereka yang menjumpai salah seorang sahabat Nabi dan menanyakan tentang hal itu dengan sikap mencemoohkan.
Maka berhubungan dengan sikap mereka yang demikian itulah diturunkan surah ini, untuk menolak keingkaran mereka dan untuk menegakkan argumen yang nyata bahwa Allah Taala benar-benar Maha Kuasa membangkitkan mereka kembali setelah mati; walaupun mereka telah jadi tanah, telah dimakan binatang buas, atau telah ditelan oleh ikan di laut, atau telah terbakar oleh api dan dihamburkan oleh angin, atau oleh yang lain-lain.
Dalam ayat ini Allah SWT mencela perselisihan orang-orang musyrik Quraisy mengenai hari berbangkit sebagai berikut: “Tentang apakah orang-orang musyrik di kalangan penduduk Mekah itu saling bertanya-tanya?”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa beliau berkata, “orang-orang Quraisy ketika turun Alquran sering bertanya-tanya satu sama lain. Di antara mereka ada yang membenarkan dan di antara mereka ada pula yang mendustakan. Maka turunlah ayat ini”.
Allah menjawab pertanyaan mereka itu dengan firman-Nya. Yang dimaksud dengan berita yang sangat besar dalam ayat ini ialah berita tentang Hari Kiamat. Disebut berita yang sangat besar karena Hari Kiamat itu amat besar huru-haranya dan menjadi pembicaraan yang luas di kalangan orang-orang Quraisy. Di antara mereka ada yang berkata bahwa kejadian Kiamat itu mustahil, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah.
Tafsir Jalalain: 001. (Tentang apakah) mengenai apakah (mereka saling bertanya-tanya?) yakni orang-orang Quraisy sebagian di antara mereka bertanya-tanya kepada sebagian yang lainnya.

Penjelasan Tafsir Oleh Ustd Nouman Ali Khan:
1. Mengenai “Tasaa’u”, Allah ‘berkomentar’ atas diskusi antara orang kafir.
Ada tiga opini mengenai tafsir kata “yatasaa’alu” (mereka saling bertanya satu dengan yg lainnya): (1) orang mukmin ditanya oleh kuffaar (kafir Quraisy), (2) kuffar saling bertanya sesama mereka, (3) orang2 mukmin dan kafir Quraisy keduanya bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Opini yg terkuat adalah yatasaa’alu bermakna Kafir Quraisy saling bertanya sesama mereka.
2. Jika kita saling bertanya-tanya, ada dua alasan: (pertama) mungkin kita benar2 tidak tahu akan sesuatu hal dan ingin tahu sehingga kita bertanya kpd org lain, (kedua) hal ini merupakan suatu perongrongan/ sindiran tajam/ ejekan.
Ketika nabi صلى الله عليه وسلم memberi berita besar mengenai ‘hari kebangkitan’ atau hari kiamat, kaum kafir Quraisy bertanya satu sama lainnya. “Apa kamu tahu apa yg dia katakan?” “Tidak.” “Apa kamu tahu?”….. Yg berarti suatu penghinaan atau ejekan.
3. Jenis Pertanyaan kafir Quraisy:
Tercantum dalam firman Allah dlm surah Al Isra (17) ayat 49.
وَقَالُوۡۤا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّرُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ خَلۡقًا جَدِيۡدًا‏ ۞
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yg hancur, apa benar-benarkan kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yg baru?” (Q.S. Al Isra ayah 49)
Ketika Allah berfirman,
(surah Al-Mudathir (74) ayat 30-31), di neraka ada sembilan belas malaikat penjaga yang ditunjuk. Salah seorang kafir Quraisy berkata ‘mereka hanya sembilan belas?’ Aku bisa menanganinya (19). Ini adalah suatu sindiran tajam dan pertanyaan mereka. Mereka menusuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم (melalui ucapan mereka)

TAMBAHAN MATERI TERKAIT

1. Salah satu ciri orang kafir: Ingkar terhadap hari kemudian
Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangakan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. (QS. 12:37). Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa.Maka orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (QS. 16:22). Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. 30:8). Dan mereka berkata:”Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya. (QS. 32:10). Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari Rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. 2:254) Sumber: http://www.unhas.ac.id/~rhiza/arsip/tarbiyah2/tarb-98/tar-1025.htm

2. Hari Kiamat

Berikut ini adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang hari kiamat.

1. Dari Abi Hurairah ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah saw. sedang dalam perjalanan suatu majlis berbincang dengan sekelompok orang (para sahabat), datanglah kepada beliau seorang desa yang lantas saja bertanya: “Kapankah hari kiamat itu?” Rasulullah saw. meneruskan pembicaraannya. Sebagian orang berbisik: “Beliau (Rasulullah) mendengar apa yang ditanyakan orang itu, tetapi tidak suka apa yang ditanyakan itu.” Yang lain berkata: “Tidak, belia tidak mendengar.” Setelah pembicaraan beliau selesai, beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang yang bertanya menyahut: “Ini aku wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat.” Orang itu bertanya: “Bagaimana menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah bersabda: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari) Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi

2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Hari kiamat tidak akan datang sebelum sungai Eufrat memunculkan suatu bukit emas yang menimbulkan perang, dimana setiap seratus orang akan mati sembilan puluh sembilan, dan masing-masing orang di antara mereka itu berkata: “Semoga saya yang selamat.” Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sungai Eufrat nyaris memunculkan emas yang disimpannya, barangsiapa yang mendapatkannya, maka janganlah ia mengambil sesuatu daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi.

3. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Nanti pada akhir zaman ada di antara pemimpin-pemimpin kalian yang menabur-naburkan uang dan tidak bisa dihitung.” (HR. Muslim) Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi.

4. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang berkeliling mengeluarkan sedekah yang berupa emas, tetapi tidak ada seorangpun yang bersedia menerimanya. Dan akan kelihatan seorang laki-laki diikuti oleh empat puluh perempuan yang ingin berlindung kepadanya, karena sedikitnya orang laki-laki dan banyaknya orang perempuan.” (HR. Muslim) Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi.

5. Di antara tanda-tanda (datangnya) kiamat ialah: ada orang di dalam masjid tapi tidak melaksanakan shalat dua rakaat, orang tidak lagi mengucapkan salam kecuali kepada orang yang dikenalnya, dan anak kecil menyuruh-nyuruh orang tua. (HR. At Thabrani dari Ibnu Mas’ud) Mukhtar Al Hadits: 159

6. Ketika hari kiamat telah dekat, maka manusia semakin rakus pada dunia dan semakin jauh dari Allah. (HR. Hakim dari Ibnu Mas’ud) Mukhtar Al Hadits: 30

7. Di akhir zaman sedikit sekali ditemukan uang yang halal dan saudara (teman) yang dapat dipercaya. (HR. Ibn Asakir dari Ibn Umar) Mukhtar Al Hadits: 31

8. Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana orang mukmin di waktu itu lebih hina daripada dombanya. (HR. Ibn Asakir dari Anas) Mukhtar Al Hadits: 186

9. Di akhir zaman nanti banyak orang ahli ibadah yang bodoh dan ahli qira’ah yang fasik. (HR. Abu Na’im) Mukhtar Al Hadits: 188

10. Akan datang suatu zaman dimana manusia tak lagi mempedulikan apakah yang dia cari itu halal ataukah haram. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah) Jawahir Al Bukhari

11. Rasullah saw. bersabda: “Akan datang kepada umatku suatu zaman dimana mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara, yaitu: mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, mencintai hidup dan melupakan mati, mencintai gedung dan melupakan kubur, mencintai harta dan melupakan hari penghitungan, dan mencintai makhluk dan melupakan Khalik. (Tertulis dalam Nashaih Al Ibad: 36-37)

Akhir kata, perbanyaklah ibadah selagi masih sempat dan bershodaqohlah selagi masih ada yang menerima shodaqoh. Sebab kita tak tahu kapan maut kan menjemput, kita juga tak tahu kapan hari akhir itu kan tiba. Sumber: http://hadis-islam.blogspot.com/2010/05/hadits-hadits-tentang-kiamat.html?m=1

TAJWID (78:1)

    HURUF HUKUM CARA BACA
عَمَّ, ‘amma – mim bertasydid Ghunnah Musyaddadah Dibaca dgn dengung 2 Harakat
تَسَآءَلُونَ, saa-a – mad thobii bertemu hamzah dalam satu kata Mad Wajib Muttashil dibaca panjang 4 atau 5 harakat ketika washal dan 4,5 atau 6 harakat ketika waqaf
تَسَآءَلُونَ, luuna – mad thobii bertemu waqaf Mad Arid Lissukun Dibaca panjang 2/4/6 harakat, namun jika diwashalkan atau dilanjut ke ayat berikutnya maka kembali ke hukum asal, yakni mad thobii dgn panjang bacaan 2 harakat

MORE:

http://bit.do/78TafsirODOA7

http://bit.do/78TafsirODOA6

http://bit.do/78TafsirODOA2_1-10

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s